Oleh: nasa88 | 26 September 2012

Teknik Pengendalian Hama Tikus

Tikus sawah ( Rattus argentiventer ) merupakan spesies dominan pada pertanaman padi. Selain itu, dapat pula ditemukan tikus semak R. Exulans. Hama tikus perlu dikendalikan seawal mungkin, mulai dari pengolahan tanah sampai tanaman dipanen. Telah banyak cara pengendalian hama tikus sawah yang dilakukan petani diberbagai daerah, namun ketepatan pemilihan waktu pengendalian, sasaran habitat, dan teknologi yang digunakan belum mencapai sasaran. Karena itulah maka populasi tikus hampir di semua daerah sentra pertanaman padi sawah semakin meningkat.

Beberapa komponen teknologi pengendalian hama tikus sawah yang bisa dilakukan adalah:

Sanitasi lingkungan dan manipulasi habitat

  •  Membersihkan dan memperbaiki lingkungan di sekitar areal pertanaman padi, seperti : semak belukar, tanggul-tanggul saluran irigasi dan pematang sawah sehingga tikus merasa tidak nyaman untuk berlindung dan berkembang biak.
  • Memperkecil ukuran pematang sawah (tinggi dan lebar + 30 cm) dapat menghambat perkembangan populasi tikus karena tikus tidak nyaman untuk membuat sarang

Kultur teknis

  • Musim tanam yang teratur dan terjalinnya kebersamaan antar petani dalam setiap kelompok tani serta kebersamaan antar kelompok tani dalam satu hamparan sehingga tumbuh kebiasaan bertanam serentak, penanaman varietas yang sama setiap musim (waktu panennya sama), pengaturan pola tanam, waktu tanam, dan jarak tanam.
  • Pengaturan pola tanam :
  1. Pada lahan sawah irigasi dilakukan pergiliran tanaman, seperti: padi-padi-palawija, padi-padi-bera, padi-palawija ikan-padi. Ini akan mengakibatkan terganggunya siklus hidup tikus akibat terbatasnya ketersediaan makanan.
  2. Pengaturan waktu tanam. Penanaman padi sawah yang serentak pada satu hamparan (minimal 100 hektar) dapat meminimalkan kerusakan karena serangannya tidak terkonsentrasi pada satu lokasi tetapi tersebar sehingga kerusakan rata-rata akan lebih rendah.
  3. Pengaturan jarak tanam. Bertujuan menciptakan lingkungan terbuka sehingga tikus tidak merasa puas dalam mencari makanan. Penanaman padi agak jarang atau sistem tanam jajar legowo ( bershaf ) kurang disukai oleh tikus sawah ( suasana terang ) karena takut adanya musuh alami ( predator ).

Fisik dan mekanis

 – Secara fisik

  • mengubah lingkungan fisik seperti: suhu, kelembaban, cahaya, air, dll sehingga tikus menjadi jera atau mengalami kematian karena adanya perubahan faktor fisik.

 – Secara mekanis

  • Menangkap dan membunuh tikus secara langsung atau menggunakan alat seperti cangkul, kayu pemukul, alat perangkap, penyembur api (solder) dan emposan atau fumigasi.
  • Kelebihan cara ini, yaitu:
  1. Sederhana dan tidak memerlukan alat yang mahal.
  2. Dapat menurunkan populasi tikus secara nyata.
  3. Meningkatkan kebersamaan petani.
  • kelemahan cara ini, yaitu :
  1. Memerlukan tenaga kerja relatif banyak.
  2. Memerlukan kebersamaan antar petani.
  3. Menimbulkan kerusakan lingkungan seperti terbongkarnya pematang sawah, rusaknya saluran irigasi, tanggul, dsb.
  • Gropyokan massal atau berburu tikus bersama. Mudah dilaksanakan, biaya murah, dan efektif menurunkan populasi hama tikus, tetapi membutuhkan kebersamaan.
  • Alat perangkap. Bubu perangkap untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup, dan umpan beracun untuk menangkap tikus sampai tikus tersebut mati.
  • Solder dan emposan.Solder untuk menyeburkan api dan udara panas ke dalam lubang atau sarang tikus sehingga tikus keluar atau mati dalam sarangnya. Untuk lebih efektifnya alat ini dapat digunakan belerang yang diletakkan pada mulut sarang tikus sehingga hembusan asap belerang yang panas dapat meracuni tikus yang ada dalam sarang.

Biologis

  • Musuh alami tikus biasanya adalah: burung hantu, ular, anjing, dan kucing. Namun, musuh alami ini pada sawah irigasi sudah jarang ditemukan. Penyemprotan bahan-bahan alami yg berasal dari ekstraks daun mindi, brotowali, tembakau seperti yang terkandung dalam PESTONA dicampur dengan buah cabai dan AERO 810 disemprotkan melingkar secara merata di pertanaman ( terutama padi ).

Kimiawi

  • Petani sudah banyak mengetahui pengendalian secara kimiawi ini, seperti rodentisida, fumigasi, dll. Namun cara ini hanya dianjurkan bila populasi tikus sangat tinggi dan cara lain sudah dilaksanakan.

Penerapan sistem SPBL dan SPB

  • Penangkapan tikus terutama di daerah endemis dapat dilakukan dengan sistem perangkap bubu (SPB) atau Trap Barrier System (TBS). Tanaman perangkap adalah padi yang ditanam pada lahan berukuran 20 x 20 m atau 50 x 50 m di tengah hamparan. Penanaman dilakukan 3 minggu lebih awal, pada saat petani disekitarnya membuat pesemaian. Tanaman perangkap dipagar dengan plastik setinggi 60 cm, disetiap sisi pagar ditaruh satu unit perangkap bubu berukuran 25 x 25 x 60 cm. Perangkap bubu dapat dibuat dari ram kawat atau kaleng bekas minyak goreng. Di sekeliling tanaman perangkap dibuat parit agar bagian bawah pagar selalu tergenang air, sehingga tikus diharapkan tidak dapat melubangi pagar atau menggali lubang di bawah pagar.
  • Perangkap bubu perlu diperiksa setiap hari sehingga tikus atau hewan lainnya yang terperangkap tidak mati dalam bubu. Setiap SPB mempunyai pengaruh sampai radius 200 m ( hallo effect ) sehingga satu unit SPB diperkirakan mampu mengamankan pertanaman padi seluas 10-15 ha dari serangan tikus. Sistem perangkap bubu linier (SPBL) atau LTBS (Linear Trap Barrier System) digunakan untuk penangkapan tikus migran yang berasal dari sekitar sawah bera, rel kereta api, perkampungan atau saluran irigasi. Terdiri dari pagar plastik setinggi 50 cm sepanjang minimal 100 m dan pemasangan perangkap bubu setiap jarak 20 m. SPBL dipasang diantara pertanaman padi dengan habitat tikus, untuk jangka waktu 3 – 5 hari. SPBL dapat dipindahkan ke lokasi lain. Teknologi ini akan berhasil jika dapat diterapkan pada hamparan relatif luas dengan melibatkan beberapa petani sehamparan.
  • Keberhasilan pengendalian hama tikus sangat tergantung pada kearifan memadukan komponen teknologi tersebut dan bagaimana kita bisa bersahabat dengan sang tikus untuk tidak harus memusuhi dengan membunuh secara sadis. Karena tikus adalah hama yang mudah beradaptasi dan lain daripada hama yang lain. Jadi waspada dan bersahabatlah dengan sang tikus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: