Oleh: nasa88 | 9 Februari 2015

Hama Ganjur Dan Cara Mengatasinya

         hama ganjurHama ganjur umumnya bukanlah merupakan hama utama padi di Indonesia. Hama ini hanya sedikit merugikan, sangat bersifat lokal, dan hanya terjadi pada musim-musim tertentu.Dengan nama latin Orseolia oryzae (Wood-Mason). Serangan ganjur dapat terjadi sejak pertanaman masih di pembibitan sampai tanaman mencapai fase primordia.

Bioekologi hama ganjur ( Orseolia oryzae ) :

  • Telur:
    Berbentuk lonjong, berwarna putih bening sampai orange, panjang 0,5 mm dan lebar 0,2 mm.
    Ngengat betina mampu bertelur 100 – 200 butir, telur diletakkan terpencar dalam kelompok yang terdiri dari 3-4 butir. Sekitar 60-70% telur terletak pada pelepah daun dan sisanya pada helaian daun.
  • Larva:
    Berwarna orange, panjang sekitar 1,3 mm, larva merayap menuju titik tumbuh melalui celah diantara jaringan titik tumbuh dan larva masuk dengan membentuk rongga, biasanya pada satu tunas dijumpai 1 larva.
  • Pupa:
    Berwarna pucat dan pada saat menjelang imago akan berwarna merah jingga, pada pupa terdapat duri-duri, panjang pupa sekitar 2,5 mm, pra-pupa bergerak menuju ke arah ujung puru dengan menggunakan deretan duri pada tubuhnya.
  • Imago/ngengat:
    Serangga dewasa ganjur menyerupai nyamuk kecil, tidak kuat terbang sehingga penyebaran sangat terbatas. Serangga ini aktif pada malam hari dan sangat tertarik cahaya.Berwarna merah cerah/merah kusam, ukuran sebesar nyamuk, siklus hidup 26-35 hari, aktif pada malam hari dan tertarik cahaya lampu.Ngengat hidup dengan menghisap embun yang terdapat pada permukaan daun.

Nisbah kelamin jantan/betina adalah 4:1, betina hanya kawin sekali. Serangga ganjur hanya menyerang tanaman pada fase vegetatif, akibat serangan daun menjadi puru (pentil) dan tidak menghasilkan malai. Para petani supaya tetap waspada adanya serangan hama ganjur karena biasanya serangga dewasa muncul pada awal musim hujan, sebelum berkembang biak pada tanaman padi serangga ganjur sudah melalui 1 atau 2 generasi pada rerumputan, satu musim dapat mencapai 3-4 generasi.

Gejala serangan hama pentil/ ganjur:

  • Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh menjadi bentuk pentil atau daun bawang, dengan panjang bervariasi, 15-20 cm. Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai. Larva serangga ganjur memakan tanaman padi pada titik tumbuh yang menyebabkan daun tumbuh berbentuk gulungan seperti daun bawang (puru/pentil). Pada titik tumbuh inilah larva makan dan berlindung sehingga titik tumbuh rusak.
  • Perkembangan optimum terjadi pada suhu antara 25 – 30 derajat C, cuaca mendung dan hujan gerimis. Serangan berat terjadi pada musim hujan terutama untuk tanaman yang terlambat tanam, umumnya dijumpai didaerah sawah irigasi maupun tadah hujan.

Cara Pengendalian hama ganjur:

  • Pengaturan tanam lebih awal sehingga pada saat kelembaban tinggi tanaman sudah masuk fase generatif. Upaya penanaman dini perlu dilakukan secara serentak.
  • Atur jarak tanam supaya tidak terlalu rapat.Jarak tanam yang bagus antara 25 x 30 cm  dengan jumlah bibit 2 – 3 bibit.
  • Penyiangan perlu dilakukan untuk menekan perkembangan hama ganjur.
  • Penyemprotan pestisida organik nasa yang berupa BVR,Corin dan pentana Dari awal tanam terbukti mampu menanggulangi serangan hama ganjur.
  • Olah tanah yang bagus dengan cara pemupukan yang berimbang antara pupuk kimia dengan pupuk organik nasa yang berupa Super Nasa + Natural Glio sejak dari awal tanam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: